بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamu’alaikum Wr. Wb

IMerspedia | Halo sahabat IMers Indonesia, apakabarnya nih, semoga hari ini Allah masih berikan kita umur yang berkah, rezeki yang halal berlimpah dan segala urusan Allah permudah, terwujud segala harapan, impian dan apa yang di cita-citakan dalam setiap doa yang di panjatkan. Aamin….

Hari ini saya akan share biografi mas Saptuari Sugiharto, sosok yang selalu menginspirasi dan memotifasi, penulis buku bestseller Kembali Ke Titik Nol, Berani Jadi Taubater, Mencari Jalan Pulang dan yang terbaru Doa Tak Tertolak, Beliau juga seorang yang memiliki misi dakwah luarbiasa, sekaligus pemberantas riba, Berikut biografi mas Saptuari Suguharto.

 

Saptuari Sugiharto

Saptuari Sugiharto

 

BIOGRAFI SAPTUARI SUGIHARTO

 

Siapa Saptuari Sugiharto

Saptuari Sugiharto adalah seorang pengusaha  lahir di Yogyakarta, 8 September 1979. Saptuari Sugiharto, pemilik Kedai Digital usaha percetakan yang memiliki lebih dari 60 cabang di lebih dari 36 kota. Saptuari Sugiharto adalah alummnus Fakultas Geografi UGM juga pendiri  Pendiri Sedekah rombongan dan menikah dengan Sitaresmi Dewi Hapsari.

Lihat webinar Satuari Sugiharto >> KLIK DISINI  

 

Perjalanan Bisnis

Sebelum mendirikan Kedai Digital, Saptuari Sugiharto berpindah kerja di sembilan pekerjaan yang berbeda-beda. Sejak masih duduk di bangku kuliah tahun 1998 hingga 2004, Saptuari telah mengalami berbagai macam profesi, mulai dari …
Penjaga tas di Koperasi Mahasiswa UGM
Penjual ayam kampung
Penjual batik dan celana gunung
Penjual stiker
Marketing radio
Salesman di sebuah perusahaan operator telepon seluler,
Hingga bekerja kantoran di sebuah perusahaan jasa teknologi informasi (IT).
Enam tahun berpindah-pindah pekerjaan semakin menyadarkan Saptuari bahwa dirinya bukan tipe pekerja kantoran yang nyaman bekerja di balik meja. Saptuari akhirnya mendirikan Kedai Digital. Yaitu agar orang biasa bisa membuat pernik pernik pribadi bergambar dirinya atau keluarganya seperti koleksi para artis.
Saptuari mendirikan Kedai Digital berawal dari sebuah bilik kecil berdinding triplek berukuran 2 meter kali 7 meter di Jalan Cenderawasih, Demangan Baru, Yogyakarta. Kios sederhana itu ia sewa dari uang gadai rumah dan sepeda motor milik orang tuanya sebesar Rp. 20 juta. Dibantu tiga karyawan yaitu dua petugas front office dan satu desainer, Saptuari membuka usaha merchandise dengan konsep pribadi, mulai dari muk, jam, pin, hingga kartu nama. Semboyan yang ia ambil pun sangat personal “bikin muk satoe sadja”.
Karena sifatnya eceran dan bukan produk massal, pada tahun-tahun pertama pembuatan merchandise pribadi terasa agak rumit. Bersama tiga karyawannya, Saptuari harus mendesain dan memproduksi sendiri yang sifatnya sangat personal, seperti muk bergambar foto diri dengan harga murah meriah pas di kantong mahasiswa. Meski demikian, kekhususan inilah yang akhirnya justru menjadi keunggulan bisnis ini. Setelah dua tahun tumbuh dengan susah payah, pada tahun 2006 bisnis Kedai Digital nyaris gulung tikar.
Gempa Bumi Yogyakarta 2006 dahsyat yang melanda Yogyakarta hampir mematahkan semangat Saptuari karena aset bisnisnya berupa komputer dan mesin scanner rusak parah tertimpa reruntuhan bangunan. Namun akhirnya, pernak-pernik Kedai Digital semakin berkembang terutama di kalangan generasi muda.Melihat prospek yang mulai cerah, ide variasi produk pun berkembang. Produk-produk baru seperti poster keramik, payung digital, mouse pad, gantungan kunci, sampai bantal-bantal lucu. Bahkan, selain produk merchandise, Saptuari kini juga membuka dua bisnis baru, yaitu bisnis kaus berdesain kocak dan nakal, Jogist (Jogja Istimewa) dan Kedai Digital Bordir.
Setelah tujuh tahun berjuang, keringat kerja keras Saptuari akhirnya membuahkan hasil. Bisnis Kedai Digitalnya kini telah berkembang di 36 kota dengan 60 cabang dan 10 cabang di antaranya 100 persen milik Saptuari pribadi. Jumlah karyawannya yang semula hanya tiga orang kini menjadi 110 orang. Dengan konsep peluang bisnis berbasis kemitraan, Saptuari menularkan kisah kesuksesannya di berbagai kota seperti Aceh, Medan, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, Pekalongan, hingga Jayapura. Dalam bisnisnya, Saptuari tidak menerapkan sistem waralaba murni dan tetap melibatkan para mitra dalam mengelola bisnis.
Saptuari mulai membuka sistem kemitraan dalam bisnisnya sejak pertengahan tahun 2007. Belajar dari pengalaman jatuh bangun selama tujuh tahun, daya tahan bisnis Saptuari ternyata terletak pada inovasi-inovasi yang ia lakukan. Saat semua pengusaha saling bersaing dengan produk yang sama, Saptuari justru berpikir untuk menciptakan inovasi produk lain.

Penghargaan

  • Pemenang Wirausaha Muda Mandiri (2007)
  • Pemenang ” Indonesia Small Medium Bisnis Entrepreneur Award ” (2008)”
  • Most Promising Asia Pasific Entrepreneur Award” (2009)
  • Pemenang ”Young Entrepreneur Indonesia Franchise Award” (2010)

 

Penulis Buku Bestseller

  1. Kembali Ke Titik Nol,
  2. Berani Jadi Taubater,
  3. Mencari Jalan Pulang
  4. Doa Tak Tertolak (Baru)

 

Pendidikan

SDN Klodangan, Berbah, Sleman dan SDN Bidara Cina, Jakarta Timur (1986-1992)SMP 62 Jakarta (1992-1995)SMA 1 Depok, Babarsari, Sleman (1995-1998)Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1998-2004).
Sumber : wikipedia.com

Apa Opini Kamu?